Menerangi Kehidupan

SELAMAT DATANG DI BLOG TAUFIK YULIANTO | Follow X & instagram @taufikyulian21 |

3 Mei 2015

Merbabu, ku kembali (catatan perjalanan Merbabu 2-3 Mei 2015)

Amazing View from Merbabu
Merbabu. Ya, akhirnya aku ke sini lagi setelah hampir 2 tahun sejak pendakian pertama pada September 2013. 
Awalnya rencana pendakian ini disepakati bersama beberapa teman. Waktunya pun sudah di rencanakan, yakni tanggal 2 Mei 2015. Seminggu sebelum hari H kami sempat membatalkan rencana karena cuaca di Merbabu, Kopeng dan sekitarnya akhir-akhir ini tidak bisa diprediksi, bahkan cenderung hujan lebat setiap hari. Kesepakatan terakhir pun hanya kita saling persiapan aja, kalau misal tanggal 2 Mei cuaca bagus bisa langsung naik. 

Sampailah pada tanggal 2 Mei kemarin, pagi hari sudah turun hujan di Kopeng dan sekitarnya. Rencana sudah benar-benar dibatalkan, bahkan salah satu teman sudah mengalihkan rencana pergi ke Demak bersama keluarganya. 

Tak disangka, setelah turun hujan dari pagi, pada siang hari cuaca di Merbabu, Kopeng dan sekitarnya menjadi sangat cerah. Tanpa pikir panjang langsung saja aku menghubungi teman yang lain yang masih stay di rumah. Akhirnya sepakat untuk tetap naik meski cuma berdua. Sore jam 5 baru ketemu kemudian kami mencari persewaan tenda ke beberapa tempat dan hingga Maghrib kami belum mendapatkannya bahkan kami sempat berpikir untuk membatalkan rencana mendaki jika tidak mendapatkan tenda. Hingga akhirnya seorang saudara membantu mencarikan pinjaman tenda meski harus mengambil dulu di daerah Salatiga. Persiapan konsumsi dan perlengkapan lain sudah siap, dan tenda pun baru didapatkan sekitar jam 19.30. Persiapan serba dadakan dan akhirnya siap berangkat sekitar jam 20.00.

Sekitar jam 8 malam, kami mulai naik ke Basecamp Cuntel, Kopeng. Registrasi dan dilanjutkan naik melewati jalur pendakian Cuntel. Trek awal di atas dusun Cuntel terasa sangat berat, karena jalannya baru saja dalam perbaikan dan licin akibat hujan sebelumnya. Perjalananan lancar hingga Pos 2, meski beberapa kali istirahat karena jalan terlalu menanjak. Sepanjang jalur banyak yang licin karena basah, sehingga kami sangat berhati-hati dalam perjalanan. Sekitar jam 11 lebih, kami sudah melewati wilayah Pos Pasar Bubrah. Di sana sudah banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda. 

Perjalanan kami lanjutkan, hingga beberapa ratus meter setelah Pasar Bubrah kami menemukan lokasi yang cukup lapang untuk mendirikan tenda. Sekitar jam 12 lebih kami mulai mendirikan tenda di sana. Kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk istirahat, hingga sekitar jam 5 pagi, setelah sholat subuh kami melanjutkan perjalanan untuk naik ke Pos Pemancar. Jalur menuju Pos Pemancar cukup menanjak, kami melangkah dengan berhati-hati. Beberapa kali istirahat, bahkan aku sempat merasakan sakit saat masih dalam perjalanan. Setelah perut sudah mulai bisa diajak kerjasama, perjalanan kami lanjutkan. Sekitar jam 7 kami sampai di Pos Pemancar. Di sana sudah banyak pendaki yang mendirikan tenda. Bahkan sepertinya memang Pos Pemancar ini favorit pendaki untuk ngecamp di Merbabu karena lokasi yang cukup lapang dan juga pemandangan yang sangat menarik. 

Awalnya kami berencana naik sampai puncak Kenteng Songo, berhubung puncak saat itu diselimuti kabut, maka rencana kami batalkan. Jadi kami hanya berhenti sampai sekitar Pos Pemancar. Setelah sekitar 2 jam menikmati pemandangan, kabut pun mulai naik menyelimuti Merbabu, akhirnya kami memutuskan untuk turun sekitar jam 9 pagi. Perjalanan turun cukup lancar bersama beberapa pendaki lain yang juga mulai turun. Lagi-lagi perjalanan turun kami pun harus sangat ekstra hati-hati, karena trek licin, bahkan beberapa kali kami dan para pendaki lain terpeleset. Sampai Pos 2 kami melihat ada seekor monyet liar yang sedang kesulitan mencari makan, kami pun berpikir untuk berbagi sisa bekal yang kami miliki. Kemudian kami melanjutkan perjalanan turun, diiringi kabut bahkan rintik hujan. Trek terasa tambah licin di jalan-jalan terakhir. Sebelum sampai basecamp Cuntel kami mendapat teman baru, mas Tender dari Semarang yang turun bareng hingga sampai basecamp. 


Beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran dari kegiatan mendaki adalah, bukan tentang kita yang sanggup menaklukan gunung, tapi justru bagaimana kita dapat menaklukan diri kita sendiri dari ego kita, rasa malas, rasa putus asa, rasa capek dan rasa takut. Dari para pendaki kita pun belajar tentang makna kebersamaan, kekeluargaan, dan kerjasama. Bahkan sesama pendaki yang jelas tidak kita kenal pun kita akan saling menyapa dan sudah merasa seperti teman sendiri. Dan yang pasti kita akan lebih bersyukur dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Bawalah sampah anda turun kembali jika mendaki.


Flower

Amazing Indonesia

Istirahatlah ketika mulai lelah

Ada kebersamaan dan kekeluargaan dalam pendakian

Wish from Merbabu
Read More
Share:

21 Feb 2015

Ayo ke Kopeng

Gapura Kopeng (photo by iwantgoto)
Sudah lebih dari 20 tahun aku hidup dan dibesarkan di sini. Di sebuah desa di lereng gunung Merbabu. Dulu melihat pemandangan di sekitar rumah adalah lumrah dan hal biasa, tapi seiring jalannya waktu, sekarang melihat pemandangan di sekitar rumah adalah sebuah hal yang menakjubkan. Kalau kata bang Jebraw di JJM, pemandangannya pecah, men!.  
Secara administratif, Kopeng berada di wilayah kecamatan Getasan, kabupaten Semarang. Sedangkan secara geografis, Kopeng lebih dikenal berada di wilayah kota Salatiga, karena memang jarak dari kota Salatiga hanya sekitar 15 km. Bahkan, beberapa orang mengira bahwa Kopeng sudah masuk wilayah kabupaten Magelang, karena memang letaknya di perbatasan antara kabupaten Semarang dan kabupaten Magelang.
Rute menuju ke Kopeng sangat mudah karena berada di jalur penghubung antara kota Salatiga dan kota Magelang. Perjalanan bisa dilalui menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Berikut rute menuju Kopeng:
Kendaraan pribadi via Salatiga:
  1. Dari kota Salatiga - perempatan Pasar Sapi - arah Kopeng/Magelang langsung ikuti jalan raya.
  2. Dari Semarang - via Jalan Lingkar Salatiga - perempatan Kumpul Rejo (Salib Putih) - ke kanan arah Kopeng/Magelang langsung ikuti jalan raya.
  3. Dari Solo Raya -via Jalan Lingkar Salatiga - perempatan Kumpul Rejo (Salib Putih) - ke kiri arah Kopeng/Magelang langsung ikuti jalan raya.
Kendaraan pribadi via Magelang:
  1. Dari Yogyakarta - pertigaan Canguk - ke kanan arah Kopeng/Salatiga langsung ikuti jalan raya.
  2. Dari Semarang - pertigaan Canguk - ke kiri arah Kopeng/Salatiga langsung ikuti jalan raya.
Kendaraan umum via Salatiga:
  1. Dari Semarang turun di Pasar Sapi Salatiga - ikut bus jurusan Salatiga-Magelang atau kendaraan kecil jurusan Salatiga-Kopeng.
  2. Dari Solo Raya turun di Pasar Sapi Salatiga - ikut bus jurusan Salatiga-Magelang atau kendaraan kecil jurusan Salatiga-Kopeng.
Kendaraan umum via Magelang:
  1. Dari Yogyakarta turun di terminal bus induk (Canguk) kota Magelang - ikut bus jurusan Magelang-Salatiga.
  2. Dari Semarang turun di terminal bus induk (Canguk) kota Magelang - ikut bus urusan Magelang-Salatiga.
Tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah dengan udara yang masih segar, di Kopeng dan sekitarnya juga terdapat beberapa obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Ada Taman Wisata Kopeng, Kopeng Waterpark, Air Terjun Umbul Songo, Air Terjun Kali Pancur dan basecamp pendakian Gunung Merbabu via Cuntel, Kopeng.
Selain obyek wisata, di Kopeng juga terdapat hotel untuk acara-acara resmi kantor maupun komunitas lain. Ada Hotel Garuda, Hotel Catalina, Hotel Griya Loka Indah, dan beberapa motel-motel kecil lain.
Oleh-oleh khas Kopeng adalah sayur segar, buah dan bunga yang dijual di sepanjang jalan di sekitar kawasan Kopeng.

Selamat Datang di Kopeng ~ Selamat Berlibur 
Sunset dari Kopeng
Pemandangan dari Gunung Merbabu

Gunung Telomoyo dari Gardu Pandang Kopeng
Air Terjun Kali Pancur
Kopeng Waterpark (photo by info kopeng)
Hotel Garuda Kopeng (photo by Garnesia)
Pedagang Sayuran Kopeng (photo by teraswarta)
Share:

2 Jan 2015

Saparan di Lereng Merbabu

Setiap bulan Sapar (penanggalan Jawa) beberapa desa di lereng Gunung Merbabu memiliki sebuah hajatan besar. Sebuah acara yang diadakan setiap satu tahun sekali dalam penanggalan Jawa ini, telah dilakukan oleh warga desa secara turun temurun sampai sekarang. Acara yang biasa disebut oleh warga sekitar dengan sebutan acara Saparan. Beberapa desa yang melaksanakan acara Saparan ada di wilayah Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang dan beberapa Kecamatan di Kabupaten Magelang yang berada di lereng Merbabu, seperti Kecamatan Ngablak dan Kecamatan Pakis. Tak terkecuali sebuah dusun yang berada di wilayah desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang yakni dusun Sidomukti.

Setiap dusun memiliki waktu yang berbeda dalam melaksanakan acara Saparan, tergantung dari waktu yang telah ditetapkan oleh tetua dusun tersebut pada zaman dahulu. Dusun Sidomukti memiliki dua pilihan hari untuk melaksanakan acara Saparan, yaitu hari Rabu Kliwon atau Kamis Kliwon. Penentuan harinya disepakati oleh warga dusun yaitu diambil hari yang berada paling akhir pada bulan Sapar tersebut.

Pada hari Saparan setiap rumah warga memiliki banyak makanan, bahkan makanan yang dihidangkan biasanya lebih banyak daripada saat lebaran Idul Fitri. Banyak juga makanan khas yang dihidangkan, seperti jadah, wajik, jenang, atau makanan tradisional lainnya. Hal lain yang menarik dari tradisi ini adalah ajaran untuk selalu menjaga silaturahim dengan kerabat, saudara dan teman kita. Biasanya pada acara Saparan, kerabat, saudara atau teman-teman akan saling berkunjung. Puncak acara Saparan adalah adanya pertunjukan kesenian yang ada dan berkembang di masyarakat. Dusun Sidomukti mewajibkan adanya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk pada saat hari Saparan. Beberapa hari kemudian biasanya diadakan pertunjukan lain seperti kuda lumping, jaranan, campur sari atau dangdut. Biaya untuk mengadakan pertunjukan kesenian tersebut berasal dari iuran seluruh warga dusun.

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari acara Saparan adalah ajaran untuk selalu menjaga silaturahim dengan kerabat, saudara dan teman, nilai gotong royong dengan seluruh warga masyarakat, serta nilai untuk selalu menjaga tradisi, budaya serta kesenian yang ada di masyarakat.
Gunungan Hasil Bumi
Arak-arakan oleh Warga Dusun
Pertunjukan Wayang Kulit
Tumpeng untuk acara selamatan/ doa bersama seluruh warga
Makanan tradisional yang dibawa warga untuk doa bersama
Read More
Share:

15 Jul 2014

Yuk, jadi #NetizenCerdas

Berita dan isu-isu pasca pilpres masih sangat menarik bagiku untuk menelusurinya.
Pagi ini, ketertarikanku muncul ketika di sosial media ada salah seorang teman mem-posting status "akhirnya menemukan ini..." dengan menambahkan tautan ke salah satu situs (klik disini).
Dari artikel yang kubaca tersebut, cukup mengingatkanku kalau situs yang dibahas pada artikel tersebut adalah salah satu media online yang jadi rujukan salah satu teman di kampus yang berseberangan pendapat denganku untuk pilpres tahun ini. Tak cukup sampai disitu, aku pun melanjutkan penelusuranku di internet untuk melihat fakta-fakta dibalik akun sosial media dan situs-situs yang beredar di tengah masyarakat.
Banyak sekali situs-situs yang mengatasnamakan Islam, sedangkan isi berita yang mereka muat dipelintir sesuai kepentingan suatu golongan tertentu, bahkan beberapa berita yang dimuat berisi fitnah.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah ØµÙ„Ù‰ الله عليه Ùˆ سلم bersabda bahwa musuh umat Islam nantinya bukan lagi hanya orang-orang kafir, melainkan akan ada orang-orang yang bersembunyi dibalik tubuh Islam untuk menghancurkan umat Islam itu sendiri.
Mudah-mudahan kita terhindar dari fitnah yang ada di akhir zaman ini.
Rasulullah ØµÙ„Ù‰ الله عليه Ùˆ سلم. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)
Dunia informasi sekarang ini sangat terbuka. Berita dan informasi bisa kita peroleh dari berbagai sumber. Berhati-hati menyebarluaskan informasi, telusuri terlebih dahulu kebenarannya.
Mari belajar menjadi pembaca yang cerdas, konsumen informasi yang kritis dan pemberi kabar yang amanah.
Read More
Share:

13 Jul 2014

Menang ojo umuk, kalah ojo ngamuk.

Spanduk Pemilu 2014 Polres Bantul
"Menang ojo umuk, kalah ojo ngamuk."
Tulisan yang terpampang cukup besar di sebuah spanduk dari kepolisian di kota Semarang tersebut cukup menarik perhatianku ketika itu.
Betapa tidak, karena waktu itu negeri ini sedang dalam masa kampanye pemilu pilihan presiden 2014 atau yang biasa disebut dengan Pilpres.
Pilpres kali ini hanya diikuti oleh dua orang calon pasangan presiden dan wakil presiden, sangat menarik karena ini adalah kali pertama pemilihan presiden di Indonesia hanya diikuti oleh dua pasangan calon.
Paslon (pasangan calon-red) nomor urut satu adalah Prabowo Subianto-Muhammad Hatta. Sedangkan paslon kedua adalah Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kedua paslon tersebut diusung oleh beberapa partai politik yang berkoalisi, seperti Gerindra, PPP, Golkar, PKS, PBB dan PAN yang mengusung paslon nomor urut satu serta PDI-P, PKB, Hanura dan PKPI yang mengusung paslon nomor urut dua.
Masa kampanye dilakukan sekitar kurang lebih satu bulan, mulai awal Juni. Yang sangat menarik perhatian adalah adanya isu-isu kampanye hitam atau black campaign yang dilakukan oleh masing-masing pasangan calon. Hal itu yang kemudian menimbulkan "jarak" di masyarakat antara pendukung pasangan nomor urut satu dan pasangan nomor urut dua. Banyak masyarakat yang tergiring opininya karena isu-isu kampanye hitam yang marak di media. Bahkan, media nasional pun mulai tidak netral dalam pemberitaan. Media televisi nasional seperti MNC Grup (RCTI-MNCTV-GlobalTV) dan VIVA Grup (antv-tvOne) lebih cenderung memihak kepada pasangan calon nomor urut satu, sedangkan MetroTV lebih cenderung memihak kepada pasangan nomor urut dua.
Tidak berakhir sampai masa kampanye saja, bahkan ketika hari pencoblosan dilakukan, yakni hari Rabu 9 Juli 2014, keberpihakan media nasional tersebut masih nampak. Seperti yang biasa dilakukan media nasional ketika ada pesta demokrasi, mereka berlomba-lomba membuat program hitung cepat atau yang biasa dikenal dengan quick count. Menariknya, ketika pilpres 2014 kali ini, hasil quick count yang dipublikasikan media nasional berbeda. Media yang berpihak pada pasangan nomor urut satu, mempublikasikan hasil quick count mereka yang mengunggulkan pasangan Prabowo-Hatta, sedangkan media nasional lain yang notabene netral termasuk MetroTV mempublikasikan hasil quick count yang mengunggulkan pasangan Jokowi-JK. Tidak hanya sampai di situ, bahkan masing-masing pasangan pun mendeklarasikan kemenangan mereka yang didapat dari hasil quick count tersebut. Saling klaim kemenangan pun terjadi hingga tanggal 22 Juli 2014 nanti ketika KPU mengeluarkan pengumuman resmi hasil pemilihan presiden yang dihitung secara manual.
"Menang ojo umuk, kalah ojo ngamuk"
Pesan dari kalimat terebut adalah bagi siapa saja yang merasa dirinya menang janganlah berlaku sombong, dan bagi pihak yang merasa kalah terimalah dengan lapang dada dan jangan berlaku anarkis. #IndonesiaDamai

Read More
Share:

7 Apr 2013

Tentang Keikhlasan

Bicara tentang Ikhlas adalah sama halnya membicarakan hal yang sulit untuk dibuktikan.
Banyak sekali orang yang bicara tentang sebuah keikhlasan tapi apakah sudah benar-benar tahu apa itu arti dari ikhlas yang sebenar-benarnya ikhlas? :)
Pernah suatu ketika disaat kita ditinggal oleh orang-orang yang kita sayangi dan kita diberi pertanyaan oleh orang di sekitar kita, apakah kamu sudah ikhlas?. Pasti kita akan menjawab iya, saya ikhlas.
Tapi itu yang berbicara adalah mulut kita ketika ditanya, coba pada saat tersebut hati kita yang berbicara pastilah hati akan berkata lain.
Semalam ketika sedang nonton tv, dengan sengaja kuhentikan mencet remote dan berhenti pada salah satu stasiun tv lokal yang sedang menayangkan acara Live Wayang Kulit :). Memang suka dengan tontonan wayang kulit tapi tidak teralalu fanatik juga sih. hehehhe
terus hubungan ikhlas sama wayang kulit apa?
Jadi begini, saat aku lihat acara itu sang dalang berkata tentang ikhlas itu yang seperti apa? Karena dalang itu bertanya sendiri dan kemudian dijawab sendiri, lalu dia menjawab kalau Ikhlas itu tidak bisa digambarkan seperti apa, tapi ikhlas itu bisa diibaratkan.
Ikhlas itu ibarat kita sedang mules (sakit perut-red) kemudian ke belakang dan buang air besar. Setelah kita buang air dan kembali sehat pasti kita tidak akan mengingat-ingat kembali dengan apa yang telah kita buang tadi. Pasti perasaan kita lega dan malah senang walaupun tadi kehilangan sesuatu dari diri kita :D.
Nah, ikhlas itu juga seperti itu. Ketika kita kehilangan sesuatu ya sudahlah tidak usah lagi kita mengingat-ingatnya, membicarakannya. Kalau kata orang jawa "sing lilo lan legowo" - jadi bisa menerima dengan lapang dada apa yang telah terjadi itu.
Memang ketika kita kehilangan sesuatu pasti dalam hati tidak akan bisa langsung bicara aku ikhlas dengan lantang. Tapi paling tidak ketika kita kehilangan sesuatu, percaya dan yakinlah bahwa Tuhan itu Maha Tahu. Allah SWT tahu apa yang Terbaik untuk hamba-Nya walaupun sebagai manusia terkadang kita menilai kalau apa yang Tuhan berikan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Marilah mulai belajar untuk menjadi pribadi yang bisa lebih ikhlas menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita. Mulai belajar untuk bisa legowo dengan segala situasi dan kondisi yang ada pada diri kita.
Read More
Share:

9 Mar 2013

Sore ini

Sore ini, ketika hujan datang tiba-tiba dengan derasnya. Hati pun gundah entah kenapa. Jam menunjukkan pukul 14:00 WIB dan itu berarti 1 jam lagi aku harus berangkat ke tempat kerja. As usual aku biasanya berangkat mepet ke kantor. Kenapa suka berangkat mepet, karena ga suka terlalu dini di kantor dan ga ngapa-ngapain. Kecuali mungkin ada yang lagi di kecengin baru deh berangkatnya agak awal. hehehehehe

Niat awal udah bismillah mau nyicil ngerjain tugas, eh habis nyalain laptop yang diklik pertama kali winamp langsung add file (s) pilih folder DEWA 19 dan masukkan beberapa lagu yang mengubah suasana hujan sore ini jadi tambah galau. wkwkwkwkkw
Beberapa lagu yang masuk di playlist adalah:

  • SATU
  • Aku Milikmu
  • Lagu Cinta
  • PUPUS
  • Dua Sejoli
  • Angin
  • Roman Picisan
  • Cintailah Cinta
  • Risalah Hati
  • Kirana
  • Tak kan ada cinta yang  lain
  • Masih Ada
  • Kangen
  • Bayang-bayang
well done, itu  semua lagu pilihan di sore yang basah ini. Kadang lagu itu bisa mengubah rasa, mengubah suasana, mengubah pikiran, dan entah apa karena dalam sebuah lagu itu ada semacam obat yang bisa mengubah itu semua, don't know. Suatu saat kita dengar sebuah lagu yang memiliki kenangan dengan lagu tersebut, pasti suasana hati dan pikiran kita terbawa ke dalam masa-masa di mana ada kenangan itu. Ibarat nonton film gitu pas flash back dan lagu itu jadi backsound musiknya. hehehehe

Jam menunjukkan pukul 15:00 WIB dan itu artinya aku harus mandi sekarang. Mumpung hujan  juga sudah berhenti menetes membasahi bumi :D.

Share:

19 Okt 2012

Adakah Keadilan di Pengadilan?

Jum'at, 19 Oktober 2012. Ya hari ini, tepatnya tadi pagi untuk pertama kalinya aku mendapatkan pengalaman baru dan sisi lain dibalik megahnya sebuah hal yang sering disebut-sebut sebagai HUKUM dan KEADILAN. Awalnya aku hanya mendampingi kakak ku untuk menghadiri undangan sidang lalu lintas di sebuah Pengadilan Negeri. Perkaranya adalah konon karena ban motor yang terlalu kecil dan tidak berukuran standar. Entah standar itu menurut polisi itu pribadi, menurut undang-undang yang berpasal-pasal katanya atau kah standar menurut pabrikan yang membuat, tak pernah ku ketahui.
Waktu dalam surat tilang tertulis tanggal 19 Oktober 2012 pukul 09:00 WIB. Aku dan kakak ku berangkat sebelum pukul 09:00, karena jarak dari tempatku berangkat yang lumayan cukup jauh. Sekitar kurang lebih 30 menit kemudian, sampailah di sebuah gedung megah yang memiliki lambang "Keadilan" di bagian depan gedung yang terletak di pinggir jalan raya itu. Di sana telah nampak banyak sekali kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, kebanyakan memiliki tujuan sama dengan ku.
Pertama kali sampai di tempat itu, langsung ku hampiri sekumpulan orang-orang di depan tempelan kerta semacam pengumuman, ternyata mereka sedang melihat nomor urut mereka yang nantinya menentukan seorang "tersangka" sidang di ruang sidang mana. Singkat cerita, aku langsung aja ke lobby gedung itu, bertanya kepada seorang petugas, akhirnya dengan membayar Rp2.000,- aku mendapatkan informasi di mana aku akan melaksanakan sidang, dan langsung saja aku masuk ke ruang sidang II. Ruangan berukuran sedang tersebut penuh sesak diisi orang-orang yang akan mengikuti sidang. Banyak hal-hal baru dan lucu yang aku dapat setelah berada di ruangan tersebut.
Berkali-kali aku menengok ke arah jam dinding yang terletak di sudut belakang ruangan tersebut, jam sudah menunjukkan pukul 09:00 WIB, tapi sidang tak kunjung juga dimulai. Usut punya usut ternyata menunggu seorang hakim yang akan memimpin jalannya sidang. Setelah budaya molor khas Indonesia, akhirnya pada pukul 09:15 datanglah seorang ibu setengah baya berjilbab dan berjubah warna merah-hitam khas pemimpin sidang dari sudut pintu sebelah kiri ruangan. Tak lama setelah sang pemimpin sidang duduk di singgasana kebesarannya, akhirnya sidang perkara lalu lintas yang ditunggu banyak orang itu pun di mulai. Model sidangnya ternyata tidak seperti yang sering aku lihat di tipi-tipi itu, tetapi ada 5 kursi berjejer tepat di depan meja sidang. Setiap orang dipanggil untuk duduk di kursi tersbut, kemudian sang pemimpin sidang akan bertanya tentang pelanggaran yang lakukan dan kemudian membacakan jumlah denda yang harus dibayarkan kemudian. Di sini saya menemui sebuah lelucon dan sekaligus ironi tentang apa itu hukum dan keadilan yang ada di negeri ini. Setiap kali sang pemimpin sidang bertanya tentang pelanggaran kepada seorang korban (aku sebut korban karena menurutku pada dasarnya mereka adalah korban ketidakadilan dan korban hukum yang berkepentingan)
, alibi sang pemimpin membaca buku yang berisi pasal-pasal dan denda yang harus dibayarkan, padahal di sini ada beberapa kasus yang menurut aku dendanya tidak sesuai.
Sebut saja seorang korban bernama A, saat ditanya sang hakim, "Kasusnya apa mas?" "Tidak bawa helm" langsung tanpa basa-basi sang hakim pun dengan lantang menjawab "40 ribu, silakan langsung keluar". Ada lagi korban B yang tidak membawa SIM, maka langsung dikenakan denda 75 ribu, dan beda lagi dengan korban C yang saat ditanya kasusnya tidak bawa SIM dan helm, langsung dijawab sang hakim "80 ribu, silakan langsung keluar". Dari ketiga kasus ini aja sudah ada yang tidak beres dengan pasal dan dendanya. Perhatikan saja yang kasusnya tidak bawa helm saja 40 ribu, yang tidak bawa SIM 75 ribu, sedangkan yang tidak bawa SIM dan helm hanya dikenakan denda 80 ribu, Adilkah itu?
Belum lagi melihat wajah Sang Pengadil yang seperti hanya mengira-ira besarnya denda. Sepertinya buku di depan tubuhnya yang seolah-olah tertulis pasal beserta besaran denda itu hanyalah sebuah pencitraan di depan publik saja.
Setelah sampai di luar ruang sidang dan telah membayar denda yang harus dibayarkan, maka betapa rasa ketidakpuasan dengan keadilan ini muncul kembali. Bagaimana tidak kalau mendengar bahwa besaran denda yang diterima oleh korban dengan jenis kasus sama tapi di sidang di ruang berbeda dengan hakim yang berbeda pula, mereka mendapatkan denda yang lebih kecil besarannya dengan denda yang di terima korban (tersangka-red ) di ruang sidang 2. Apakah memang pasal untuk tiap hakim itu berbeda? hahahahha Alangkah lucunya hukum dan keadilan di negeri yang katanya berasas atas hukum ini.
Share:

21 Jul 2012

21st B'day on July 21st

Hari ini adalah tepat tanggal 21 Juli, dan jika berdasar pada perhitungan penanggalan masehi itu berarti hari ini adalah tepat 21 tahun aku menginjakkan kaki di dunia ini. Ya ini adalah hari ulang tahunku kata teman, sahabat, keluarga dan semuanya. Seperti pengulangan-pengulangan tahun sebelumnya, kali ini pun tidak ada yang istimewa. Hanya pada tanggal 21 Juli tahun ini tepat bertepatan dengan hari pertama aku menjalankan ibadah puasa ramadhan. Do'aku pada ulang tahun kali ini semoga Gusti Allah senantiasa melindungi ku dan keluarga ku dari segala tipu daya dan godaan syaitan. Semoga ramadhan kali ini memberi berkah yang lebih kepada ku dan keluargaku. Aku sadar sekarang aku bukan anak-anak lagi, aku sudah beranjak dari remaja menjadi dewasa dan itu berarti pemikiranku pun harus lebih dewasa. Dalam panjangnya untaian kata-kata do'a yang selalu kupanjatkan kepada Gusti Allah hanya satu yang selalu aku ingin, aku bisa membahagiakan Bapak dan Ibu, serta semua orang-orang yang selalu berada di sekitarku. Aku ingin bisa melihat kedua orang tua ku senyum bahagia dan bangga. Semoga momen ulang tahunku yang ke 21 pada tanggal 21 Juli ini, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1433 H dapat menjadikan awal langkah untuk menjadikan diri lebih Istiqomah dan semoga dapat kembali fitri pada akhir Ramadhan nanti. Amiiin Read More
Share:

21 Jun 2012

Tabrakan karena hujan

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Setelah acara kampus selesai, aku segera menuju masjid terdekat mengingat waktu sudah hampir setengah satu. Setelah melaksanakan sholat Dzuhur langsung saja aku menstarter motor dan ingin segera menuju ke kos (rencana awal mau ke bengkel). Berjalan sekitar 500 meter dari masjid, terasa tetesan air hujan turun dari atas dan itu pertanda akan segera hujan. Segera ku percepat tarikan gas motorku karena aku tidak membawa jas hujan. Setelah sampai jalan raya, tanpa pikir panjang aku pun langsung mempercepat lajuku karena hujan pun telah turun sesampainya aku di jalanan itu. Tepat di perempatan sekitar sebuah pasar, melihat ada motor dan mobil yang akan menyebrang. Karena mobilnya berhenti aku pun mempercepat motorku, hingga tiba-tiba motor yang berada di sebelah mobil itu malah bablas mau nyebrang, dan tabrakan pun tak terhindarkan. Melihat seorang ibu yang mengendarai motor itu teriak kesakitan, aku malah panik. Dalam pikirku sudah macam-macam saja, mana kepikir isi dompet juga yang tinggal beberapa lembar uang. Alhamdulillah aku tidak mengalami lecet sedikit pun, dan aku segera berdiri. Ada beberapa orang yang membantu mendirikan motor dan meminggirkannya. Setelah kedua motor itu sudah berada di luar area tadi, aku pun kembali membantu ibu tadi untuk berdiri dan duduk di pinggir sebuah toko. Melihat teriak kesakitan ibu itu, aku malah jadi takut, kalau-kalau ada apa-apa nanti bagaimana... Setelah beberapa saat ibu itu sudah tenang, kami pun mulai merundingkan hal yang tadi terjadi. Sebenarnya tidak ada yang benar, semuanya salah. Salah karena semua buru-buru menghindari lebatnya hujan, sehingga tidak mempedulikan kecepatan laju kendaraannya. Ketika kami bertiga sedang berunding (ibu tadi boncengan, aku sendirian jadi bertiga), ada seseorang yang mencoba menengahi kami. Ibu tersebut berkata kalau kaki ibunya tidak apa-apa, hanya ada memar sedikit karena tertimpa motor tadi, tinggal nanti di pijit saja. Karena memang tidak ada yang benar, semua sama-sama salah jadi kami langsung berdamai dan aku memberikan sedikit uang untuk membantu biaya ibu tersebut memijitkan kakinya. Pengalaman tabrakan pertama (semoga ini terakhir), dan akan selalu menjadi catatan dalam hidupku. Lain kali kalau naik motor kondisi hujan hati-hati tidak usah ngebut. Kalau memang hujannya terlalu lebat, istirahatlah tunggu sampai hujan agak reda. Kalau mau nyebrang juga hati-hati, sekiranya ada motor ngebut berhenti dulu tunggu sampai lalu lintas benar-benar lengang dan bisa untuk menyebrang. Read More
Share:

Iqro'

Kawanku

Diberdayakan oleh Blogger.