Menerangi Kehidupan

SELAMAT DATANG DI BLOG TAUFIK YULIANTO | Follow X & instagram @taufikyulian21 |
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

23 Sep 2017

Inspirasi dari Bumi Tolitoli

           
SM3T UNNES Angkatan VI Kabupaten Tolitoli
      SM-3T yang kepanjangannya adalah Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal merupakan sebuah program gagasan dari pemerintah untuk mengatasi masalah dalam dunia pendidikan di tanah air. Program ini telah berjalan 5 tahun dan pada tahun 2016 SM-3T sampai pada angkatan yang ke enam. Mendengar berbagai artikel dan cerita dari teman-teman, saya pun tertarik untuk mengikuti program ini selepas lulus dari kuliah. 
Sebelum bercerita lebih jauh tentang pengalaman saya mengikuti program ini, perkenalkan nama saya Taufik Yulianto. Saya adalah lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang. Setelah lulus kuliah pada tahun 2015, saya mengajar di sebuah Sekolah Dasar di kabupaten Magelang. Beberapa bulan saya mengajar, saya masih cari-cari informasi tentang penerimaan SM-3T. Sampai pada bulan Mei, ada pengumuman penerimaan SM-3T untuk angkatan VI dan saya pun ikut mendaftar. Semua tahap pendaftaran saya lalui dengan baik hingga pada tahap pengumuman. Sempat berkecil hati pada waktu menunggu pengumuman, karena terdengar kabar bahwa penerimaan angkatan VI kuotanya sangat sedikit.
Tibalah saatnya pengumuman pada tanggal 5 Agustus 2016. Alhamdulillah nama saya masuk dalam daftar peserta SM-3T Unnes angkatan VI. Tahap yang harus dilalui berikutnya sebelum penempatan di daerah 3T adalah kegiatan Prakondisi yang diaksanakan pada tanggal 15 sampai 31 Agustus 2016 bertempat di Bandungan, Kab. Semarang. Ada beberapa agenda kegiatan yang dilaksanakan pada saat Prakondisi, seperti pembagian rombongan belajar (rombel), workshop pendidikan, kurikulum, pramuka sampai dengan kegiatan ketahanmalangan. Menjelang berakhirnya kegiatan Prakondisi, ada pengundian dan pengumuman penempatan daerah 3T yang menjadi tujuan. Saya yang masuk dalam rombel VI dan mendapatkan penempatan di kabupaten Tolitoli, provinsi Sulawesi Tengah. Daerah yang namanya masih asing di telinga saya. Setelah selesai kegiatan Prakondisi disampaikan pengumuman bahwa pemberangkatan akan dilaksanakan pada tanggal 5 September 2016.
Prakondisi SM-3T UNNES Angkatan VI di Bandungan, Kab. Semarang
Senin tanggal 5 September 2016 tepat sekitar pukul 14.00 WIB, perjalanan dimulai dari gedung LPTK UNNES, Sekaran, Gunung Pati, Semarang. Perjalan rombongan SM-3T kabupaten Tolitoli menggunakan 2 buah bus menuju ke bandar udara Ahmad Yani, Semarang.
Perjalanan kami ke bandara kami tempuh selama ± 30 menit. Sesampai di sana kami langsung menuju pintu keberangkatan, tapi belum diizinkan masuk karena masih ada administrasi yang belum diselesaikan oleh biro perjalanan. Kami menunggu tidak lama, hanya 30 menit-an. Namun kondisi di bandara yang penuh sesak ditambah lagi suhu di kota Semarang yang panas membuat keringat kami mengalir dengan deras. Ibarat kue lebaran kami serasa masuk ke dalam oven, panas sekali.
Sekitar pukul 15.00 WIB kami mulai memasuki pintu keberangkatan, barang bawaan kami diperiksa menggunakan mesin X-ray dan tubuh kami dipindai menggunakan alat pendeteksi logam. Hal ini dilakukan untuk mencegah penumpang membawa benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Sesuai dengan boarding pass  yang telah kami terima, penerbangan kami dijadwalkan pukul 17.35 WIB menggunakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT666 menuju kota Balikpapan di Kalimantan Timur. Sembari menunggu waktu, sebagian dari kami melaksanakan sholat dan sebagian dari kami menyantap nasi kotak yang telah disiapkan oleh biro jasa yang mengurus keberangkatan kami.
Sampai waktunya tiba, kami mulai berjalan memasuki pesawat yang akan kami gunakan. Sesuai dengan SOP penerbangan, sebelum pesawat take off pramugari memperagakan cara menggunakan alat keselamatan ada di pesawat. Mulai dari sabuk pengaman, alat pelampung, masker oksigen sampai penjelasan tentang jalur evakuasi.
Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat terbang. Rasanya diawal seperti naik bus dengan kecepatan tinggi, kemudian ketika pesawat take off berasa seperti naik roller coaster saat lintasan naik. Ketika terbang di atas, suara mesin pesawat cukup mengganggu pendengaran. Tetapi gangguan itu tak berarti ketika melihat pemandangan dari ketinggian sekitar 7000 mdpl yang tampak luar biasa. Rasa syukur kepada Allah SWT bertambah besar ketika melihat bumi dan seisinya tampak kecil dilihat dari atas ketinggian.
Pertama kali naik montor mabur :D
Perjalanan udara pun sampai di bandar udara Sultan Aji Mahmud Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Di sini dibuat takjub dengan kondisi bandara yang sangat bersih, modern dan besar. Hanya ada waktu sekitar 40 menit untuk mengurus boarding pass sampai waktunya terbang kembali menggunakan pesawat Lion Air JT858 menuju ke bandar udara Mutiara Sis Al Jufri, Kota Palu.
Tiba di Palu sekitar pukul 23.00 WITA, di sana sudah menunggu pendamping dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli serta beberapa mini bus yang siap mengantar kami ke Kota Tolitoli. Perjalanan darat di tanah Sulawesi pun dimulai. Melewati beberapa sudut kota Palu pada malam hari, jalanan terasa semakin gelap ketika sampai di luar kota. Jalan Trans Sulawesi yang menjadi penghubung antar provinsi menjadi jalan utama yang kami lewati. Kondisi jalan antar provinsi ini jauh lebih parah dari jalan antar kabupaten di Jawa, bahkan di Kabupaten Donggala, masih banyak jalan yang belum diaspal dengan baik, dan penerangan pun masih minim, bahkan tidak ada sama sekali sehingga pengendara kendaraan harus berhati-hati melewati jalan tersebut.
Perjalanan berhenti beberapa kali, untuk sekedar melepas lelah, buang air hingga istirahat sholat. Setelah sampai di Kecamatan Dampal Selatan, yakni kecamatan di ujung selatan Kabupaten Tolitoli yang berbatasan dengan Kabupaten Donggala, kami singgah di sebuah SMA untuk istirahat dan sarapan. Setelah waktu istirahat dirasa cukup perjalanan pun dilanjutkan melewati beberapa kecamatan di Kabupaten Tolitoli. Perjalanan dengan pemandangan yang jarang, bahkan belum pernah aku temui sebelumnya. Di sebelah kanan tampak barisan pegunungan berjejer dengan kokohnya, sementara di sebelah kiri tampak luas dan bersihnya lautan di sepanjang garis pantai Kabupaten Tolitoli. Jalanan yang kami lewati berliku dan naik-turun bukit, sehingga beberapa teman yang tidak terbiasa merasakan mual dan mabuk perjalanan. Perjalanan yang melelahkan sekaligus mengasyikan ini kami lalui selama kurang lebih 12 jam, jadi pada hari Selasa tanggal 6 September 2016 sekitar pukul 13.00 WITA kami sampai di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Tolitoli. Di sana sudah tampak beberapa kepala dinas pendidikan kecamatan dan kepala sekolah yang sekolahnya akan kami tempati selama 1 tahun ke depan.
Setelah bersih diri dan istirahat secukupnya, semua peserta SM3T berkumpul  di gedung pertemuan Disdikbud untuk melakukan kegiatan serah terima dari Kemdikbud-LPTK UNNES kepada Disdikbud Kabupaten Tolitoli. Penyerahan peserta dilakukan oleh Sekretaris LP3 UNNES, Dr. Sugianto, M.Si yang kemudian diterima oleh Wakil Bupati Kabupaten Tolitoli, H. Abdul Rahman.
Acara serah terima diakhiri dengan pengumuman nama-nama peserta penempatan untuk tiap kecamatan dan sekolah, setelah itu dilakukan sesi foto bersama Kadisdikbud dan Wakil Bupati serta beberapa kepala sekolah. Setelah rangkaian acara selesai, setiap peserta langsung berangkat menuju ke penempatan masing-masing. Saya mendapatkan penempatan di Kecamatan Basidondo yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Tolitoli. Perjalanan ke Basidondo saya bersama 3 teman lain, yaitu Sukma Kartika Abiddin, Ulinnuha Musthofa dan Rena Legina Isnintia diantar oleh kepala sekolah SMK N 1 Basidondo, Bapak Endin Rusdiana. Perjalanan sampai sekitar pukul 19.00 WITA, setelah mengantar teman ke tempat tinggal masing-masing, sampailah di depan sebuah rumah permanen berwarna hijau dengan tiang merah muda, yakni rumah Bapak Daeng Mamuji seorang kepala sekolah SDN 2 Sibaluton. Di situlah tempat tinggal saya pertama di tanah Sulawesi.
            Pada acara serah terima di kabupaten disampaikan jika wilayah kecamatan Basidondo adalah kecamatan yang memiliki jalan bagus, listrik lancar tetapi belum memiliki sinyal telepon, hal tersebut terbukti ketika saya telah tiba di sini. Lambang sinyal di hp menjadi panggilan darurat tanpa adanya jaringan. Ada sinyal tetapi di titik-titik tertentu di beberapa tempat. Masyarakat biasa memberi tanda dengan sebuah tiang kayu, sehingga ketika ingin menggunakan jaringan telepon, hpnya diikat di tiang tersebut. Ini adalah tantang saya pertama untuk tinggal di sebuah tempat yang tidak memiliki jaringan telepon.
           
Bersama rekan guru di SDN 2 Sibaluton Kabupaten Tolitoli
SDN 2 Sibaluton, tempat saya mengabdi berjarak sekitar 5 km dari rumah kepala sekolah. Perjalanan sejauh itu ditempuh melalui Jalan Trans Sulawesi menggunakan sepeda motor. Hari pertama di sekolah penempatan saya pun mulai melakukan observasi dan perkenalan dengan seluruh warga sekolah, baik guru, tenaga kependidikan dan juga siswa. Setelah berkenalan sebentar, saya diajak kepala sekolah untuk pergi ke suatu tempat yang memiliki jaringan telepon, bahkan jaringannya bisa dipakai untuk internet. Tempat tersebut berjarak sekitar 1 km dari sekolah. Masyarakat di sini biasa menyebutnya dengan nama KM. 3 (Kilo Tiga). Setelah mendapatkan jaringan telepon, saya pun menghubungi keluarga di rumah untuk memberikan kabar bahwa saya dalam keadaan sehat dan sudah berada di lokasi penempatan selama satu tahun di kabupaten Tolitoli. Mulai saat itu, setiap ingin menghubungi keluarga, saya pergi ke KM. 3 untuk mendapatkan jaringan telepon. Selain di KM. 3, teman-teman guru di SDN 2 Sibaluton juga biasa meletakkan hpnya di jendela kantor untuk mendapatkan jaringan telepon meski jaringannya kadang hilang, kalau orang-orang biasa menyebut jaringan GSM (Geser Sedikit Mati). Dari pengalaman ini, saya mengetahui betapa penting dan berharganya sebuah komunikasi, serta betapa pentingnya jaringan telepon.
           
Perjuangan mencari sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga di Jawa
Setiap masyarakat yang beda suku dan tempat tinggal, tentulah memiki adat dan kebiasaan yang berbeda pula. Masih di awal-awal berada di penempatan, ada hal yang menarik ketika saya disuguhi untuk makan siang. Di sana ada sebuah sayur hijau dengan kuah berwana merah seperti sirup, saya kira itu adalah sayur yang diberi sirup sehingga berwarna merah kuahnya, tapi ternyata itu adalah sayur yang berbahan bayam merah sehingga ketika dimasak kuahnya pun akan menjadi merah. Terkait dengan makanan, ada beberapa makanan yang asing bagi saya yang memang asli Jawa, seperti sayur paku, sayur kelor, hingga pisang dan ketela pohon yang dimasak dijadikan sayur. Tetapi, dari sinilah saya mendapatkan pengalaman yang berharga juga, saya bisa merasakan makanan khas dari bagian lain bumi pertiwi ini.
Selama mengabdi di sini, saya mendapatkan tugas dari kepala sekolah untuk mengajar di kelas V. Kelas tersebut terdiri dari 30 siswa, tetapi hanya ada 28 siswa yang aktif masuk ke sekolah. Siswa dengan berbagai latar belakang suku ada di kelas ini. Ada suku Tolitoli, Dondo, Bugis, Mandar dan bahkan suku Jawa juga ada. Awal mengajar di sini, saya masih agak kebingungan dengan bahasa yang digunakan oleh anak-anak. Walaupun sebagian besar komunikasi di sekolah adalah menggunakan bahasa Indonesia, tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang sudah bercampur dengan bahasa lokal sehari-hari.
           
Halaman sekolah dengan pemandangan bukit Cengkeh
Sebagian besar siswa di sekolah yang saya tempati, berasal dari orang tua yang bermata pencaharian sebagai petani atau pekebun. Komoditas utama masyarakat di sini adalah cokelat, kelapa dan cengkeh. Ketika musim panen cengkeh, biasanya akan banyak siswa yang jarang masuk ke sekolah dengan alasan membantu orang tua mereka panen cengkeh di kebun. Itu adalah salah satu kendala yang saya jumpai dalam mengajar di sini. Selain itu bahan ajar yang ada di sekolah juga terbatas, hanya ada satu buku pegangan yang dipakai guru. Sehingga saya harus pandai-pandai menyiasati penggunaan bahan ajar yang ada, agar pembelajaran dapat terus berjalan dengan baik.
Di SDN 2 Sibaluton terdapat delapan guru dan tenaga kependidikan yang terdiri dari enam guru kelas, satu orang tenaga administrasi dan satu orang penjaga sekolah. Dari kedelapan orang tersebut, hanya ada tiga orang yang berstatus PNS, yakni kepala sekolah, satu tata usaha dan satu penjaga sekolah. Enam tenaga yang lain masih berstatus honorer dan dengan disiplin ilmu yang tidak sesuai, yakni bukan lulusan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Keadaan seperti ini merata hampir di semua sekolah yang ada di kabupaten Tolitoli. Kebanyakan PNS guru yang ada di kabupaten Tolitoli menumpuk di ibukota kabupaten, sehingga sekolah-sekolah yang ada di wilayah kecamatan lain mengalami kekurangan guru.
            Setelah sekitar dua minggu saya tinggal di rumah kepala sekolah, saya pun pindah di perumahan SDN 1 Basi yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggal kepala sekolah saya. Di sana saya tinggal bersama teman yang bertugas di SDN 1 Basi, yaitu Sukma Kartika Abiddin. Di sini kami mulai belajar bagaimana memasak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu pengalaman yang saya dapatkan dari mengikuti program SM-3T ini adalah belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
           
Guru SM3T Kec. Basidondo bersama pejabat dan guru di lingkungan kec. Basidondo
Menjadi peserta SM-3T mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar menjadi orang yang lebih mandiri, belajar menjadi seorang guru yang bisa bermanfaat tidak hanya untuk para siswa tetapi juga bermanfaat bagi sesama rekan guru, saya pun belajar hidup di masyarakat, belajar berorganisasi, belajar menghadapi masalah baik masalah secara personal maupun masalah yang berhubungan dengan kedinasan. Bersama rekan-rekan SM-3T yang berada di kecamatan Basidondo, saya pun belajar mengadakan sebuah lomba cerdas cermat yang diikuti oleh sekolah dasar dan menengah pertama yang ada di wilayah kecamatan Basidondo. Ini adalah pengalaman pertama saya mengadakan sebuah kegiatan lomba yang dilaksanakan di tingkat kecamatan.
           
Tempat pengabdian selama satu tahun di Tolitoli
 
Setahun memang bukan waktu yang sebentar, tetapi rasanya sangat singkat ketika kita menikmati sebuah perjalanan hingga sampai pada masanya harus berpisah. Menginjakkan kaki di tanah Sulawesi ini adalah sebuah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya lupakan. Terlalu banyak pengalaman dan kenangan yang saya dapatkan di sini. Saya bisa mengenal berbagai macam karakter orang, saya bisa mengenal saudara berbeda suku yang berada di sini, saya bisa mengenal siswa-siswi yang luar biasa, serta mengenal guru-guru yang memiliki dedikasi tinggi untuk ikut mencerdaskan anak-anak negeri. Terima kasih Tolitoli, terima kasih NKRI.
Bapak dan Ibu guru kece SDN 2 Sibaluton
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan :')
Tetap semangat belajar, nak. Raih cita-cita kalian!
Kalian adalah salah satu inspirasiku.
Share:

23 Jul 2016

Cita-citaku menjadi ...

Setiap tanggal 23 Juli, di Indonesia diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Sejarah hari anak nasional berawal dari gagasan mantan presiden RI ke-2, yakni Bapak Soeharto yang melihat anak-anak sebagai aset untuk kemajuan bangsa, sehingga sejak tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984, ditetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Kegiatan Hari Anak Nasional dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah. 
Pagi ini cahaya mentari tampak bersinar memberikan kehangatan di tengah dinginnya hawa pegunungan. Hari ini, tanggal 23 Juli 2016 bertepatan dengan hari Sabtu. Masih seperti jadwal yang berlaku pada tahun pelajaran sebelumnya, setiap hari Sabtu pagi diadakan kegiatan senam bersama seluruh siswa SD Negeri Keditan. Semua siswa tampak bersemangat bergerak mengikuti irama musik senam kesehatan jasmani.

Beberapa hari sebelumnya, saya pernah bertanya kepada para siswa kelas IV mengenai cita-cita mereka. Berbagai macam cita-cita muncul dari kepolosan anak-anak. Ada yang ingin menjadi dokter, polisi, tentara, guru, perawat dan sopir. Satu anak yang menurut saya unik bernama Ahmad Falah atau biasa dipanggil Falah. Setiap hari dia memakai peci ke sekolah, ketika saya tanya apa cita-citanya kemudian dia menjawab kalau dia ingin seperti Abahnya. Abahnya adalah seorang pemuka agama di desa tempat tinggalnya.
Meskipun hari ini adalah hari yang ditetapkan pemerintah untuk memperingati Hari Anak Nasional, tetapi tidak ada acara khusus untuk memperingatinya di sekolah kami. Saya, sebagai wali kelas IV memiliki ide kecil untuk menghidupkan peringatan Hari Anak Nasional kali ini. Saya ingin menumbuhkan semangat belajar dan semangat optimisme kepada para siswa.
Setelah tanda bel berbunyi, anak-anak masuk ke kelas masing-masing, termasuk juga kelas IV. Semua telah duduk rapi di tempat duduk masing-masing. Saya memerintahkan anak-anak untuk mempersiapkan alat gambar mereka. Kemudian, saya meminta kepada mereka untuk menggambar apapun yang berhubungan dengan cita-cita yang mereka inginkan. Berbagai macam gambar pun muncul, sesuai dengan cita-cita mereka masing-masing.

Cita-citaku menjadi ..

Perkenalkan, kami siswa-siswi kelas IV SD Negeri Keditan,
Ummu Nila bercita-cita menjadi guru,
Juwanti bercita-cita menjadi guru,
Cendyi Cici bercita-cita menjadi guru,
Amelia Nagita bercita-cita menjadi dokter,
Santi bercita-cita menjadi perawat,
Fara bercita-cita menjadi dokter,
Nabila bercita-cita menjadi guru,
Ika bercita-cita menjadi dokter,
Nurul bercita-cita menjadi dokter,
Muhammad Ibnu bercita-cita menjadi sopir,
Ahmad Falah bercita-cita menjadi pendakwah,
M. Miftahul Falah bercita-cita menjadi tentara,
Andika Hafiz bercita-cita menjadi tentara,
Galang Ade bercita-cita menjadi polisi. 
Gantunglah cita-cita kalian setinggi langit. Tetap semangat untuk belajar dan optimis dalam meraih cita-cita kalian. Jangan lupa berdo'a untuk mempermudah usaha kalian. Selamat Hari Anak Nasional, nak.


Keditan, 23 Juli 2016
Taufik Yulianto
Read More
Share:

3 Mei 2015

Merbabu, ku kembali (catatan perjalanan Merbabu 2-3 Mei 2015)

Amazing View from Merbabu
Merbabu. Ya, akhirnya aku ke sini lagi setelah hampir 2 tahun sejak pendakian pertama pada September 2013. 
Awalnya rencana pendakian ini disepakati bersama beberapa teman. Waktunya pun sudah di rencanakan, yakni tanggal 2 Mei 2015. Seminggu sebelum hari H kami sempat membatalkan rencana karena cuaca di Merbabu, Kopeng dan sekitarnya akhir-akhir ini tidak bisa diprediksi, bahkan cenderung hujan lebat setiap hari. Kesepakatan terakhir pun hanya kita saling persiapan aja, kalau misal tanggal 2 Mei cuaca bagus bisa langsung naik. 

Sampailah pada tanggal 2 Mei kemarin, pagi hari sudah turun hujan di Kopeng dan sekitarnya. Rencana sudah benar-benar dibatalkan, bahkan salah satu teman sudah mengalihkan rencana pergi ke Demak bersama keluarganya. 

Tak disangka, setelah turun hujan dari pagi, pada siang hari cuaca di Merbabu, Kopeng dan sekitarnya menjadi sangat cerah. Tanpa pikir panjang langsung saja aku menghubungi teman yang lain yang masih stay di rumah. Akhirnya sepakat untuk tetap naik meski cuma berdua. Sore jam 5 baru ketemu kemudian kami mencari persewaan tenda ke beberapa tempat dan hingga Maghrib kami belum mendapatkannya bahkan kami sempat berpikir untuk membatalkan rencana mendaki jika tidak mendapatkan tenda. Hingga akhirnya seorang saudara membantu mencarikan pinjaman tenda meski harus mengambil dulu di daerah Salatiga. Persiapan konsumsi dan perlengkapan lain sudah siap, dan tenda pun baru didapatkan sekitar jam 19.30. Persiapan serba dadakan dan akhirnya siap berangkat sekitar jam 20.00.

Sekitar jam 8 malam, kami mulai naik ke Basecamp Cuntel, Kopeng. Registrasi dan dilanjutkan naik melewati jalur pendakian Cuntel. Trek awal di atas dusun Cuntel terasa sangat berat, karena jalannya baru saja dalam perbaikan dan licin akibat hujan sebelumnya. Perjalananan lancar hingga Pos 2, meski beberapa kali istirahat karena jalan terlalu menanjak. Sepanjang jalur banyak yang licin karena basah, sehingga kami sangat berhati-hati dalam perjalanan. Sekitar jam 11 lebih, kami sudah melewati wilayah Pos Pasar Bubrah. Di sana sudah banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda. 

Perjalanan kami lanjutkan, hingga beberapa ratus meter setelah Pasar Bubrah kami menemukan lokasi yang cukup lapang untuk mendirikan tenda. Sekitar jam 12 lebih kami mulai mendirikan tenda di sana. Kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk istirahat, hingga sekitar jam 5 pagi, setelah sholat subuh kami melanjutkan perjalanan untuk naik ke Pos Pemancar. Jalur menuju Pos Pemancar cukup menanjak, kami melangkah dengan berhati-hati. Beberapa kali istirahat, bahkan aku sempat merasakan sakit saat masih dalam perjalanan. Setelah perut sudah mulai bisa diajak kerjasama, perjalanan kami lanjutkan. Sekitar jam 7 kami sampai di Pos Pemancar. Di sana sudah banyak pendaki yang mendirikan tenda. Bahkan sepertinya memang Pos Pemancar ini favorit pendaki untuk ngecamp di Merbabu karena lokasi yang cukup lapang dan juga pemandangan yang sangat menarik. 

Awalnya kami berencana naik sampai puncak Kenteng Songo, berhubung puncak saat itu diselimuti kabut, maka rencana kami batalkan. Jadi kami hanya berhenti sampai sekitar Pos Pemancar. Setelah sekitar 2 jam menikmati pemandangan, kabut pun mulai naik menyelimuti Merbabu, akhirnya kami memutuskan untuk turun sekitar jam 9 pagi. Perjalanan turun cukup lancar bersama beberapa pendaki lain yang juga mulai turun. Lagi-lagi perjalanan turun kami pun harus sangat ekstra hati-hati, karena trek licin, bahkan beberapa kali kami dan para pendaki lain terpeleset. Sampai Pos 2 kami melihat ada seekor monyet liar yang sedang kesulitan mencari makan, kami pun berpikir untuk berbagi sisa bekal yang kami miliki. Kemudian kami melanjutkan perjalanan turun, diiringi kabut bahkan rintik hujan. Trek terasa tambah licin di jalan-jalan terakhir. Sebelum sampai basecamp Cuntel kami mendapat teman baru, mas Tender dari Semarang yang turun bareng hingga sampai basecamp. 


Beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran dari kegiatan mendaki adalah, bukan tentang kita yang sanggup menaklukan gunung, tapi justru bagaimana kita dapat menaklukan diri kita sendiri dari ego kita, rasa malas, rasa putus asa, rasa capek dan rasa takut. Dari para pendaki kita pun belajar tentang makna kebersamaan, kekeluargaan, dan kerjasama. Bahkan sesama pendaki yang jelas tidak kita kenal pun kita akan saling menyapa dan sudah merasa seperti teman sendiri. Dan yang pasti kita akan lebih bersyukur dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Bawalah sampah anda turun kembali jika mendaki.


Flower

Amazing Indonesia

Istirahatlah ketika mulai lelah

Ada kebersamaan dan kekeluargaan dalam pendakian

Wish from Merbabu
Read More
Share:

7 Apr 2013

Tentang Keikhlasan

Bicara tentang Ikhlas adalah sama halnya membicarakan hal yang sulit untuk dibuktikan.
Banyak sekali orang yang bicara tentang sebuah keikhlasan tapi apakah sudah benar-benar tahu apa itu arti dari ikhlas yang sebenar-benarnya ikhlas? :)
Pernah suatu ketika disaat kita ditinggal oleh orang-orang yang kita sayangi dan kita diberi pertanyaan oleh orang di sekitar kita, apakah kamu sudah ikhlas?. Pasti kita akan menjawab iya, saya ikhlas.
Tapi itu yang berbicara adalah mulut kita ketika ditanya, coba pada saat tersebut hati kita yang berbicara pastilah hati akan berkata lain.
Semalam ketika sedang nonton tv, dengan sengaja kuhentikan mencet remote dan berhenti pada salah satu stasiun tv lokal yang sedang menayangkan acara Live Wayang Kulit :). Memang suka dengan tontonan wayang kulit tapi tidak teralalu fanatik juga sih. hehehhe
terus hubungan ikhlas sama wayang kulit apa?
Jadi begini, saat aku lihat acara itu sang dalang berkata tentang ikhlas itu yang seperti apa? Karena dalang itu bertanya sendiri dan kemudian dijawab sendiri, lalu dia menjawab kalau Ikhlas itu tidak bisa digambarkan seperti apa, tapi ikhlas itu bisa diibaratkan.
Ikhlas itu ibarat kita sedang mules (sakit perut-red) kemudian ke belakang dan buang air besar. Setelah kita buang air dan kembali sehat pasti kita tidak akan mengingat-ingat kembali dengan apa yang telah kita buang tadi. Pasti perasaan kita lega dan malah senang walaupun tadi kehilangan sesuatu dari diri kita :D.
Nah, ikhlas itu juga seperti itu. Ketika kita kehilangan sesuatu ya sudahlah tidak usah lagi kita mengingat-ingatnya, membicarakannya. Kalau kata orang jawa "sing lilo lan legowo" - jadi bisa menerima dengan lapang dada apa yang telah terjadi itu.
Memang ketika kita kehilangan sesuatu pasti dalam hati tidak akan bisa langsung bicara aku ikhlas dengan lantang. Tapi paling tidak ketika kita kehilangan sesuatu, percaya dan yakinlah bahwa Tuhan itu Maha Tahu. Allah SWT tahu apa yang Terbaik untuk hamba-Nya walaupun sebagai manusia terkadang kita menilai kalau apa yang Tuhan berikan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Marilah mulai belajar untuk menjadi pribadi yang bisa lebih ikhlas menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita. Mulai belajar untuk bisa legowo dengan segala situasi dan kondisi yang ada pada diri kita.
Read More
Share:

1 Jan 2012

Let's dream on 2012

Uih, lamaaaaaaaaaaaa gak pernah posting, udah berapa abad yak??
Gak terasa udah makin tua aja nih hidup,baru kemarin tahun 2011 eh sekarang udah tahun 2012. HAPPY NEW YEAR..... ^_^
Udah ada yang buat planning buat tahun ini? Mungkin ada yang udah nyiapin uang sekarung buat ngelamar sang pacar di tahun ini dan akhirnya menikah menjadi sepasang makhluk Tuhan yang paling seksi, ups paling hepi :). Atau masih ada yang galau dengan kesendiriannya dan tadi malem menggalau sendiri sambil liat kembang api.
Apa pun rencana kalian, tulis lah dulu semua rencana dan mimpi-mimpi itu dalam sebuah catatan kecil. Tulis semua yang akan kamu lakukan di tahun ini. Tulis hal-hal yang bisa dan mungkin kamu lakukan untuk mencapainya. Dan berusaha untuk mendapatkannya. "The Power of Dream", yak itu nama metode yang bisa kamu lakukan untuk mencapai rencara, tujuan dan keinginan yang akan kamu capai di tahun ini. Dengan menulis semua tujuan di tahun ini, akan mempermudah kita untuk berusaha mencapainya. So, marilah teman mumpung masih tanggal 1 di awal tahun, mari kita mulai bermimpi, tulis semua impian dalam sebuah catatan kecil, dan mulai bergerak untuk meraih mimpi-mimpi kita. Yakin lah bahwa kita bisa meraih mimpi-mimpi kita selama ada Ikhtiar dan Tawakal, selama ada usaha dan do'a.
Jangan pernah takut bermimpi, sekalipun akhirnya tidak seluruh impian Anda terwujud. Oleh karena adalah jauh lebih baik seseorang mencapai sebagian dari cita-citanya, daripada orang yang sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mencapai cita-citanya, bahkan yang terburuk adalah orang yang menjalani hidup tanpa cita-cita.
Let's Dreaming and Doing!!!
Read More
Share:

5 Mar 2009

10 Tips Menghadapi UAN

Buat teman-teman kelas XII SMA/SMK/MA, UAN tinggal beberapa hari lagi. Tentunya sudah cukup banyak persiapan yang kita lakukan, mungkin ada yang les privat, les tambahan di sekolah, bahkan sampai ada pelajaran tambahan di malam hari seperti di tempatku. Tapi apakah itu semua sudah cukup?
Berikut ini ada 10 tips untuk menghadapi UAN bulan April mendatang...

1. Berdoalah pada Tuhan

Adalah sombong yang beranggapan bahwa keberhasilan kita semata-mata usaha dan kerja keras kita sendiri tanpa keikutsertaan Sang Pencipta. Untuk itu dengan segala kerendahan diri dan hati di hadapan-Nya, kita panjatkan doa agar diberi kelulusan, kesehatan dan kemudahan dalam menghadapi ujian nanti. Tuhan Mahatahu dan tentu akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-hambanya.

2. Hadapilah ujian dengan tenang dan proporsional

Hadapilah ujian ini dengan sikap yang tenang dan proporsional bahwa ujian sebagai sesuatu yang harus dihadapi, dilalui. Sikap tenang akan memungkinkan kita menyusun rencana menentukan strategi dan menjalaninya dengan senang.

3. Bersikaplah proaktif

Proaktif adalah suatu sikap yang beranggapan bahwa kita sendirilah yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup ini, termasuk dalam menghadapi UAN. Yakinlah bahwa kerja keras dan usaha keras yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Dalam menyikapi standar minimal 5,50 justru yang terbaik adalah kita sendiri membuat patokan standar nilai minimal. Misalnya, menargetkan 7,01 atau 8,01 sehingga yang muncul adalah tantangan bukan beban.

4. Buatlah rencana

Menghadapi ujian dapat diibaratkan sebagai perjalanan menuju sukses. Sebagaimana perjalanan sukses, sudah sepatutnya kita membuat perencanaan. Dari sekian banyak bahan pelajaran yang harus dipelajari dipilah-pilah antara bahan UAN dari pusat dengan bahan ujian dari sekolah. Antara bahan kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, pelajaran hitungan dan hafalan, sehingga dapat dipelajari dengan teratur dan sistematis. Model belajar semacam itu dapat meringankan dan lebih mengefektifkan cara kerja otak. Salah satu hukum otak yaitu dapat bekerja maksimal dengan cara teratur dan sistematis.

5. Perbanyaklah baca dan latihan soal

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh lembaga bimbingan belajar adalah para siswa banyak berlatih memecahkan soal-soal dengan cepat. Kita dihadapkan pada soal-soal yang harus dijawab dan dipecahkan dengan tepat. Dengan sering kita berlatih maka kita terbiasa dan terlatih, sehingga tidak cemas atau grogi dalam menghadapi soal (ujian).

6. Belajar kelompok

Belajar kelompok merupakan salah satu cara yang dapat dipakai para siswa untuk berbagi dengan teman yang lain dalam memecahkan soal dan saling menguatkan motivasi belajar dan prestasi. Para siswa daripada banyak bermain dan membuang-buang waktu dengan percuma, manfaatkanlah dengan cara belajar berkelompok dengan teman di sekolah atau di sekitar tempat tinggal kita.

7. Efektifkan belajar di sekolah

Masih terdapat siswa yang datang ke sekolah dan hadir di kelas dengan alakadarnya atau sekadar hadir, tidak mengoptimalisasikan semua potensi dirinya untuk meraih hasil terbaik dalam daya serap materi maupun prestasinya. Padahal jika dimaksimalkan, niscaya hasilnya akan lebih bagus walaupun tidak ditambah dengan les-les yang lain di luar jam sekolah. Pada umumnya, para siswa kurang menggunakan kemampuan nalarnya dalam belajar, baru sebatas menghafal. Siswa juga masih kurang untuk bertanya, berdialog bahkan berdebat dengan gurunya. Padahal kemampuan bertanya salah satu upaya untuk memperkuat pemahamaman atau pengertian dan keterampilan belajar.

8. Mohon doa restu dari orang tua

Yakinlah bahwa jika kita lulus maka orang tua kita akan senang dan bangga. Jadikanlah perjuangan menghadapi UAN 2009 sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua kita tercinta. Mohon doa restulah pada orang tua agar kita diberi kemudahan dan kelancaran. Kedua orang tua kita akan dengan senang mendoakan putra-putrinya yang sedang berjuang menghadapi UAN.

9. Rajin Bertanya

Rajin-rajinlah bertanya, karena dengan bertanya kita dapat mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. Jika ada kata/kalimat yang tidak kita ketahui di dalam buku yang kita pelajari, maka sangat dianjurkan untuk bertanya pada ahlinya, baik itu guru, orang tua, maupun kakak kita. Ketika di sekolah, jika ada penjelasan guru yang tidak kita mengerti maka bertanyalah. Jangan takut bertanya ! Karena kemungkinan masih banyak teman sekelasmu yang juga tidak mengerti penjelasan guru tersebut, hanya saja mereka malu bertanya.
Kalau tidak pernah bertanya, kita tidak akan tahu sampai kapanpun.
Ingat, “Malu bertanya, sesat di jalan”.

10. Motivasi Diri Anda

Motivasilah diri Anda sedini mungkin untuk belajar, karena dengan adanya motivasi dapat meningkatkan keinginan untuk selalu dan terus belajar. Salah satu cara memotivasi diri Anda adalah dengan membuat beberapa afirmasi, seperti “Kalau dia bisa, kenapa aku nggak bisa?”.

Saya rasa itu semua sudah cukup, tapi kalau kamu punya tips lainnya silahkan tulis komentar kamu, yach...

Semoga sukses di UAN nanti !
Sumber


Read More
Share:

Iqro'

Kawanku

Diberdayakan oleh Blogger.